Minggu, 15 April 2012

CERPEN


GARA – GARA BANTUAN   

Mentari baru menampakkan dirinya. Hembusan angin pagi dan kicauan burung menambah kemeriahan di pagi hari. Dengan sepeda tua dan tas kulit lusuhnya Pak Saleh menelusuri jalan-jalan kampung menuju sebuah kantor Kepala Desa tempatnya bekerja. Ia adalah seorang Kepala Desa di Kelurahan Rengas. Ia sangat disegani dan dihormati oleh warganya. Karena ia adalah orang yang baik, jujur, disiplin, bijaksana, dan selalu memperhatikan kehidupan warganya. Ia tidak pernah membeda-bedakan antara warga yang kaya dan miskin. Ia juga sering memberikan bantuan kepada warga yang tidak mampu. Seringkali ia pergi ke kantor kecamatan dan kantor kabupaten untuk mencarikan bantuan untuk warganya dan seringkali pula dia debat dengan Kepala Camat dan Kepala Kabupaten karena sering meminta bantuan. Ia juga menyisihkan sebagian upah kerjanya untuk ditabung dan jika jika sudah cukup akan dipakai untuk membangun sebuah panti asuhan. Kehidupan sehari-harinya pun sederhana. Dengan rumah petak yang cukup untuk tidur dan ruang tamu serta dapur saja. Tak jarang juga banyak warga yang datang untuk memohon agar diberi pengarahan dalam mengajukan bantuan. Gaji yang tak seberapa habis untuk biaya anak sekolah, biaya hidup, dan kadang kalau ada uang lebih suka berbagi pada tetangga.
            Sabtu itu Pak Saleh libur ngantor dan biasanya kalau pagi-pagi suka didepan teras minum teh dan menikmati udara segar. Tiba-tiba sepeda berhenti persis didepan rumahnya.
            “Assalamuallaikum, Pak !” ucap warganya yang biasa dipanggil Mbah Wono sambil menyetandarkan sepedanya.
            “Wa’allaikumsalam , Mbah. Mangga mlebet riki !” jawab Pak Saleh dengan tutur katanya yang lembut berwibawa.
            “Ngeten Pak, saya ini mau menyekolahkan anak saya yang baru lulus SMP mau masuk SMA. Tapi ini saya malah belum ada uang untuk mendaftarkan. Kalau mau mohon beasiswa Pendidikan ten Kabupaten itu gimana ?” tanya Mbah Wono sambil menjelaskan keluhannya.
            “Gini aja Mbah, njenengan buat surat permohonan untuk Pak Bupati dilampiri fotocopy KTP keluarga, KK, kalau ada surat Askes atau Jamkesmas. Nanti diajukan ke Kabupaten, atau nanti Mbah saya antar ke Kabupaten biar Mbah yang mengajukan. Biar pihak Kabupaten tau sendiri,” jawab Pak Saleh panjang lebar.
            “Woo. . . ngih Pak, matur nuwun atas arahipun saya langsung pulang saja, Monggo . . . Assalamuallaikum !” pamit Mbah Wono.
            “Wa’allaikumsalam,” jawab Pak Saleh kemudian masuk kedalam rumah.
            Dari kejauhan ternyata ada salah satu warga yang sengaja mendengarkan pembicaraan Pak Saleh dan Mbah Wono. Dia itu yang sering dipanggil warga Pak Marta. Orang yang syirik bila ada orang yang mendapat bantuan. Padahal hidupnya sendiri sudah kecukupan, motor ada, rumah lumayan gedhe, usaha dagang Baksonya lumayan laris. Itu semua juga berkat bantuan Pak Saleh, Lurah Desa yang mengajukan permohonan modal untuk Pak Marta. Tetapi ia masih merasa kurang cukup terus. Pikiran piciknya pun keluar, ia ingin mencoba seperti Mbah Wono. Memohon bantuan Pendidikan untuk anaknya yang kebetulan juga telah lulus SMP.
            Sore itu matahari masih terlihat sinarnya. Pak Saleh pulang dari sawahnya, baru saja meletakkan sepedanya terdengar deru motor dan berhenti persis didepan rumahnya.
            “Kulonuwun Pak,” sapa Pak Marta yang baru saja menyandarkan sepeda motornya.
            “Njih-njih monggo, mlebet !” sambut Pak Saleh sembari membawa masuk paculnya.
            “Ngoten Pak, kulo niki ajeng mathoske bantuan anak kulo. Trus kepripun nggih egranpun ?”tanya Pak Marta dengan mimik muka memelas. “O. . . niku, bukane panjenengan niku mboten kere, mboten kekurangan lha kog ajeng njaluk bantuan !” jawab Pak Saleh sambil nyengir-nyengir. “Lha? Kog mboten kere pripun to? Kulo niki nggih termasuk wong susah dinggeh mangan sakbendinone we kurang-kurang “. Bantah Pak Marta ketus.
            “wo ngoten, nopo Warung Bakso menika ingkang laris mboten ngasilake rejeki, motor, sawah, omah ingkang magrong-magrong meniko mboten sanggup dingge mbiayai putro panjenengan ?. menawi panjenengan ajeng ngajokake bantuan, tep ngih mboten pareng. Wong panjenengan niku wong mampu !” tutur Pak Saleh terperinci. Dengan muka memerah Pak Marta pamit pulang. Batinnya tersentak, dendam dengan apa yang dikatakan Pak Saleh padanya.
            Tak lama setelah kejadian itu, Pak Marta mulai ngomong yang tidak-tidak kepada warga setempat. Pak Marta menyebarkan isu-isu kepada warga kalau Pak Saleh itu sekarang mulai sombong dengan jabatannya, sudah tidak peduli lagi dengan warga miskin, nyatanya dirinya ditolak sewaktu mau meminta bantuan.
            Ada warga yang percaya, ada juga yang tidak.karena memang benar Pak Marta tidak pantas diberi bantuan, karena memang sudah mampu. Tapi tak sedikit juga yang percaya, dan mulai membenci Pak Saleh.
            Seperti biasanya Pak Saleh berangkat ke kantor, ditengah perjalanan Pak Saleh tak sengaja mendengar pembicaraan warganya. Mereka membicarakan dan mencaci maki dirinya. Pak Saleh tetap sabar, tak mempedulikan apa yang dikatakan warganya itu.
            Ternyata hasutan Pak Marta telah berhasil meracuni warga setempat. Dengan senyum khasnya yang licik, Pak Marta menemukan ide baru, ia ingin jadi seperti Pak Saleh, menjadi Kepala Desa.
            Pada bulan itu harusnya bantuan untuk para petani sudah turun, tapi belum ada kabarnya juga. Dengar kabar itu Pak Marta memanfaatkan keadaan yang ada. Ia menyebarkan fitnah, kalau bantuan untuk para petani itu tak kunjung turun karena dikorupsi oleh Kepala Desa Rengas, Pak Saleh. Mendengar itu, warga sontak panas kacau, kalab,tidak berfikir panjang.
            Sore itu juga warga mendatangi rumah Pak Saleh, dengan membawa golok, pisau, bambu,kayu, dan alat-alat yang lain.
            “Saleh. . . Saleh. . . metu kowe, dasar keparat !!! teriak warga. “Nek ora metu tak bakar omahmu, “ Sahut warga. Pak Saleh keluar dengan diikuti istri dan anaknya. “ wonten nopo niki?” Tanya Pak Saleh gemetar. “orasah rame, ayo seret Saleh nang lapangan,” gertak Pak Marta. Dengan diseret warga, Pak Saleh hanya bisa pasrah dan berdoa tidak tau duduk masalahnya seperti apah. Sesampainya di lapangan Pak Saleh diikat disebuah tiang, tidak dijinkan tau apa sebenarnya duduk masalahnya. Pak Wono yang mengetahui hal itu langsung melaporkan kepada Pak Camat dan polisi.
            Warga sudah menghakimi Pak Saleh, ada yang memukul, menonjok, menendang, hingga Pak Saleh tak berdaya. Pak Camat mendengar laporan dari Pak Wono, langsung segera menuju tempat kejadian, dengan didampingi beberapa polisi, sesampainya di lapangan polisi menembakkan pistol ke udara sebagai peringatan. Sontak warga mundur, Pak Wono segera menolong Pak Saleh, dilepasnya tali dan didudukkannya dipinggir lapangan. Warga hanya diam, hanya Pak Marta yang angkat bicara. “Pak, Saleh menika Kades keparat, sampun mengkorupsi bantuanipun petani, terus petani ajeng pripun Pak?” celoteh Pak Marta.
            “Sinten le ngomong Pak Saleh korupsi? Bantuanipun bener-bener dereng cair, wau sore lagi entas cair. Dadi panjenengan-panjenengan nek mboten gadah bukti kuat niku nggeh mboten pareng menfitnah ngoten niku. Sakniki sinten seng ajeng tanggung jawab. Sinten seng mempelopori niki? Tanya Pak Camat. Serta Merta, Pak Merta gelagapen. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Dengan celingak-celinguk ia mengaku, bahwa ia yang memanas-manasi warga. Untuk kejadian ini, polisi pun mengamankan Pak Marta, dibawanya ia ke kantor polisi.
Dengan pertolongan Pak Wono, Pak Saleh diantar ke rumah sakit. Dua hari setelah kejadian itu Pak Marta terkena sangsi dengan hukuman satu tahun penjara. Sedangkan warga berbondong-bondong datang ke rumah Pak Saleh dengan banyak sekali makanan, untuk meminta maaf atas segala kesalahan warganya. Pak Saleh nya tersenyum dan kembali dipercaya dimasyarakat.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar